Selasa, 27 Maret 2012

MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


MAKALAH
PENTINGYA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENINGKATKAN
KUALITAS PESERTA DIDIK DI SEKOLAH

DISUSUN OLEH:
YATI KURNIATI S.Pd.MM












STAP PENGAJAR SD.NEGERI SELAAWI
PUSAT PEMBINAAN PENDIDIKAN KECAMATAN PACET
KABUPATEN CIANJUR
2012


KATA PENGANTAR

            Seraya  memenjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Yang  senantiasa  memberikan kekuatan  khususnya kepada penyusun, sehingga atas  ijinNya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tanpa hambatan yang berarti.
            Pada kesempatan ini  penyusun akan memaparkan makalah yang berjudul “Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Meningkatkan Kualitas Peserta Didik di Sekolah”
            Penyusun mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam penyelesaian makalah ini.
            Namun penyusun menyadari, dengan keterbatasan yang ada sudah barang tentu makalah ini banyak sekali kekurangan – kekurangannya. Untuk itu kritikan dan saran yang sifatnya membangun sangat  penyusun  harapkan, demi perbaikan di masa yang akan datang.
            Akhirnya penyusun berharap, walaupun makalah ini jauh dari sempurna. Semoga  dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama teman – teman sejawat.


Pacet, Maret 2012
                                                                                                                                 Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dewasa ini telah terjadi pergeseran moral dan nilai yang signifikan dalam realita kehidupan, baik secara pribadi, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa. Hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai factor, diantaranya: Nilai budaya bangsa yang mulai pudar, nilai-nilai kehidupan telah bergeser dari tatanannya,  budaya malu hampir musnah pada tiap tingkatan masyarakat, melemahnya kemandirian bangsa, dan manajemen keterbatasan perangkat, sampai saat ini belum ada manajemen yang positif dan efektif dalam menanggulangi persoalan bangsa yang sangat komplek.
            Kutipan pesan dari Ali Bin Ali Tholib:”Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik, akan dengan mudah dihancurkan oleh kemungkaran yang terorganisir dengan baik.”
Dalam mengahadapi problem yang begitu rumit dan komplek seperti itu dibutuhkan pendidikan karakter yang dibangun melalui pendidikan yang melibatkan berbagai elemen bangsa terlebih sebagai pemangku kepentingan. Dengan manajemen yang seperti ini diharapkan dapat meminimalisir dan menangkal kemungkaran yang terjadi saat ini.
            Di Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung pembangunan. Dengan demikian untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, maka pendidikan memiliki peranan yang sangat penting.
Hal tersebut sesuai dengan amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional pada pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
            Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta  didik  agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta  bertanggung  jawab.
 ( UU No. 20 / 2003 ).
            Esensi dari pendidikan adalah pengalihan ( transmisi ) kebudayaan berupa nilai – nilai dari orang dewasa kepada orang yang belum dewasa ( anak – anak ). Masalah pendidikan yang mendasar adalah bagaimana memanusiakan manusia ( humanis ) melalui pendidikan. Pendidikan bukan saja memberdayakan pikiran dan pencapaian prestasi belajar, melainkan terkait erat dengan nurani dan moral spiritual serta pembentukan karakter.
            Menurut Sigmund Freud “ Karakter yang berkualitas harus dibentuk sejak usia dini, kegagalan dalam penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi – pribadi yang bermasalah di masa dewasanya. Pernyataaan ini berarti bahwa apabila anak berhasil mewarisi nilai – nilai kepribadian yang  bermakna pada usia dini, maka pribadi anak di masa dewasa  akan menjadi orang yang lebih berarti bagi orang lain.
            Untuk mencapai hal tersebit di atas diperlukan pendidikan karakter bagi peserta didik agar mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan dan santun dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Karena karakter merupakan nilai – nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perhatian, dan perbuatan berdasarkan norma – norma agama, hokum, tatakrama, budaya dan adat istiadat.
            Menurut Ali Ibrahim Akbar,2000 : Ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata –mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis  (  hard skill ) saja, tetapi lebih oleh pengetahuan mengelola diri dan orang lain ( soft skill ). Hal ini membuktikan bahwa kesuksesan seseoarang lebih ditentukan oleh kemampuan manage self daripada kemampuan knowlage. Dan juga sebagai isyarat bahwa mutu pendidikan karakter mampu  meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di masa yang akan datang.
            Dari pemaparan di atas penulis akan mengangkat judul  Pentingnya  Pendidikan Karakter dalam Meningkatkan Kualitas Peserta Didik di Sekolah.
B     RUMUSAN MASALAH
                  Berdasarkan latar belakang di atas, pembatasan masalah dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan karakter ?
2.      Mengapa Pendidikan Karakter sangat penting dalam meningkatkan kualitas peserta didik di sekolah ?
3.      Bagaimanakah  pelaksanaan Pendidikan Karakter  dalam meningkatkan kualitas peserta didik di sekolah ?
C    TUJUAN
            Penulisan makalah ini             bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan hal – hal  yang berkaitan dengan Pentingnya Pendidikan Karakter dalam meningkatkan Kualitas Peserta Didik di Sekolah .
            Sebagai kajian bagi guru dalam mengimplementasikan Pendidikan Karakter pada proses pembelajaran, sehingga memungkinkan adanya upaya perbaikan dan peningkatan mutu layanan kepada peserta didik.          



BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

A.     PENGERTIAN KARAKTER
          Dennis Coon dalam bukunya Introduction To Psychologi ; “ Exploration And Aplication “. Mendefinisikan   Karakter  sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat.
           Karekter menurut bahasa adalah siifat dasar, kepribadian, perilaku atau tingkah laku dan kebiasaan yang berpola. Menurut pandangan lain karakter berbeda dengan kepribadian. Kepribadian adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta yang di dapat oleh manusia sejak lahir. Kepribadian tidaklah tetap, dan juga memiliki kelemahan dan  kelebihannya pada kehidupan social.
           Karakter juga diartikan sebagai pembelajaran  manusia             pada saat mengatasi dan memperbaiki kelemahannya, serta menimbulkan kebiasaan positif yang baru.Karakter mampu merubah kepribadian seseorang melalui pembelajaran yang terarah dan terorganisir, dan juga didasarkan pada kesadaran diri seseorang.
B.    PENGERTIAN PENDIDILAN KARAKTER
          Pendidikan Karakter adalah upaya penyiapan kekayaan batin peserta didik yang berdimensi agama , social, budaya, yang mampu diwujudkan dalam budi pekerti, baik dalam perbuatan maupun perkataan.
          Pendidikan Karakter adalah suatu system penanaman nilai – nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi kompenen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai nilai tersebut. baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa,diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi insan  kamil.
          Dalam Pendidikan Karakter di sekolah, dibutuhkan keterlibatan seluruh kompenen ( stakeholders ), dan juga kompenen – kompenen pendidikan itu sendiri diantaranya: kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengelolaan sekolah, pemberdayaan sarana prasarana, termasuk keuangan serta etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Dengan demikian Pendidikan Karakter dapat diterapkan melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ). Guru memiliki kesempatan merealisasikan Pendidikan Karakter ke dalam masing – masing satuan pendidikan.
          Hal ini sesuai dengan tujuan KTSP yaitu meletakkan dasar – dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan selanjutnya.
          Adapun konsep Pendidikan Karakter termuat dalam rumusan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BNSP ) yaitu pendidikan yang menginternalisasikan semua potensi peserta didik seperti hal yang termaktub dalam rumusan tujuan KTSP.
          Menurut UU No 20 Tahun 2003, Pasal 13 ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan Formal, informal, dan nonformal yang dapat saling memperkaya dan melengkapi satu sama lain. Seperti kita ketahui saat ini pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran yang sangat dominan dalam keberhasilan peserta didik, namun hal tersebut belum memberikan kontribusi yang berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik.
                           Situasi seperti itu disebabkan oleh paktor orang tua yang terlalu sibuk, kurangnya pemahaman dalam mendidik anak pada lingkungan keluarga, serta pengaruh pergaulan, pengaruh negative media elektronik sehingga pencapian hasil belajar peserta didik belum signifikan.Salah satu alternative untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui Pendidikan Karakter terpadu,  yaitu dengan memadukan dan mengoptimalkan kegiatan lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah.
C.     PELAKSANAAN  PENDIDIKAN KARAKTER
          Pelaksanaan Pendidikan Karakter  sebagai upaya meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan. Empat hal yang dijadikan rujukan dalam pelaksanaan Pendidikan Karakter, yaitu:
1.      Olah Hati / Kholbu ( Spiritual And Emotional Development ) yaitu mengembangkan asset yang berkaitan dengan nilai religi ( KeTuhanan, Hablumminalloh ) sehingga bisa bekerja dan berbuat dengan ikhlas.
2.      Olah Rasa / Karsa ( Affective and Creativity  Develomment ) yaitu mengembangkan  asset  yang  berhubungan dengan  sesama  manusia. 
( Hablumminanas ), sehingga mampu menjalin cinta kasih terhadap sesama  baik secara pribadi, social maupun bermasyarakat.
3.      Olah Pikir / Dzikir ( Intellectual Development ) yaitu mengembangkan asset yang berhubungan dengan akal, sehingga dapat berpikir dengan jernih dan cerdas.
4.      Olah Raga dan Kinestetik ( Physical and Kinestetic Development ) yaitu mengembangkan asset  fisik agar selalu sehat dan mampu bekerja dengan keras.
     Dalam pelaksanaan Pendidikan Karakter menjadi tanggung jawab semu elemen bangsa, terutama guru sebagai pengawal garda terdepan dalam pendidikan.
     Pendidikan Karakter yang diterapkan dalam satuan pendidikan menjadikan sarana pembudayaan dan pemanusiaan ( Koesoema, 2007: 114 ) sesuai dengan subtansi utama yaitu membangun pribadi  dengan karakter mulia sebagai individu, masyarakat dan bangsa.
     Menurut Foesster ada empat ciri Pendidikan Karakter, yaitu :
1.Keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan hirarki   nilai.   Nilai   menjadi pedoman normative setiap tindakan.
2.      Koherensi yang memberi keberanian , membuat  seseorang teguh pada prinsip tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau takut resiko . Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa saling percaya satu sama lain.
3.      Otonomi yang berarti seseorang memiliki kebebasan untuk menginternalisasikan nilai – nilai dalam mengambil keputusan pribadi tanpa intervensi orang lain.
4.      Keteguhan dan Kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang untuk mencapai sesuatu yang dipandang baik.Sedangkan Kesetiaan merupakan bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

D.    TUJUAN  PENDIDIKAN KARAKTER
          Pendidikan Karakter secara implinsit bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, seimbang, dan sesuai dengan standar kompetensi lulusan.
          Pendidikan Karakter seharusnya membawa peserta didik kepengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengenalan nilai secara nyata. ( Mochtar Buchori, 2007 ).
E.  STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER
          Menurut T. Raka Joni ( Jabar, 2003 : 13 ) Strategi adalah menunjuk ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
          Menurut A. Kosasih Jahiri ( 1995:1996:1 ) Strategi adalah kajian tentang cara atau teknik melaksanakan atau mencapai sesuatu secara baik dan sukses.
          Dengan demikian jelaslah bahwa strategi adalah kajian tentang bagaimana caranya kita memilih dan melaksanakan model pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.
          Ada beberapa Stategi Pendidikan Karakter, diantaranya :
·         Diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran.terutama pada Pendidikan Kewarganegaraan.
    Menurut A. Kosasih Djahiri ( 2002 : 23 ) bahwa fungsi dan tujuan PKn adalah : Memberdayakan nilai , moral, dan norma luhur budaya bangsa Indonesia sebagai jati diri dalam kehidupannya,serta membinanya menjadi warga Negara Indonesia yang baik, fungsional, modern, melek politik dan hukum, dengan memiliki kemampuan untuk studi lanjutan dan belajar sepanjang hayat.
·         Pengembangan melalui  pendidikan formal, informal, dan nonformal.
·         Pembudayaan berkarakter dibina dan dikuatkan dengan penanaman nilai – nilai kehidupan agar menjadi budaya yang positif.
                                    Seperangkat  kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif akan menghasilkan orang – orang yang sukses dan bintang – bintang kinerja ( Cleland, 1973 ).
                                    Keberhasilan  mereka dikarenakan tidak mengandalkan kompetensi intelektual semata , tapi mampu mengembangkan kecerdasan hati ( afektif ), kasih sayang, empati, kejujuran, amanah, tanggung jawab, kreatifitas, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya yang berdasarkan pada ajaran agama.
                       Menurut Stephen R Covey dalam bukunya “ Seven Habit “  sikap yang dipancarkan dalam mengambil inisiatif dan tanggung jawab secara sadar, berperilaku atas dasar nilai bukan atas dasar perasaan dan dukungan social.
                       Dalam Pendidikan Karakter ini seyogyanya  partisipasi seluruh kalangan dunia pendidikan hendaklah menjadi suri teladan bagi generasi penerus dalam rangka penanaman nilai, norma dan moral di sekolah. Dan pada akhirnya peserta didik  yang berkualitas akan terwujud.


BAB III
KESIMPULAN

                         Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Meningkatkan Kualitas Peserta Didik di Sekolah. Bukan saja menciptakan peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual  yang tinggi atau karya cipta yang dihasilkan,  sikap yang senantiasa menjadi penurut  dan manut terhadap semua anjuran dan ajakan saja. Melainkan lebih dari itu pendidikan yang elegan akan  mengutamakan aspek nilai dan moral yang sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa  guna mendukung terciptanya pribadi yang handal dan mantap dalam setiap mengambil keputusan dan bersikap, baik dalam kehidupan pribadi, social, bermasyarakat dan berbangsa.
                        Dengan bergulirnya kembali  Pendidikan  Karakter dalam  berbagai stategi pelaksanaan diharapkan mampu menggali dan membangun  potensi peserta didik kearah yang lebih maju dan berhasil. Keseluruhan potensi baik IQ ( Intelegence Questient ),  EQ ( Emotional Questient ) dipadukan menjadi satu kesatuan menjadi ESQ ( Emotion Spiritual Questient ) sebagai stabilisator keseimbangan pencapaian keberhasilan di dunia dan di akhirat .
                        Karakter yang akan dipancarkan dalam mengambil inisiatif dan tanggung jawab secara sadar berperilaku atas dasar nilai,  bukan atas dasar perasaan dan dukungan cuaca social. Pendampingan dari pihak orang tua akan sangat bermakna pada setiap sikap yang tercermin dalam kehidupan sehari – hari.
                        Pembentukan  Karakter yang diharapkan menjadi tiga bagian yang  terkait , yaitu pengetahuan tentang moral ( moral knowing ), perasaan (moral feeling ), dan berperilaku bermoral ( moral behavior ). Karakter yang baik akan mengetahui kebaikan, ( Knowing the good ) mencintai dan menginginkan kebaikan (loving or desiring the good) dan yang paling penting adalah melakukan kebaikan ( acting the good ). Sehingga  keberhasilan Pendidikan karakter sebagai perwujudan lahirnya manusia – manusia yang bermartabat dengan terbentuk keagungan peradaban bangsa.
                        Suri teladan dari semua pemangku kepentingan ( Stakeholder ) menjadi pendukung utama dalam pembentukan pribadi insani yang  tangguh dan mampu mengemban amanat selaku kholipah di muka bumi.

                       

                       






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar